Measuring Instruments
Home     Detector   Oscilloscope   Signal Generator   Spectrum Analyzer   device detector   smoke detector   metal detectors   bug detector   gold detector   spectrum analyzer equalizer   keylogger detector   All Tags
Home ›› Spectrum Analyzer ›› Antena Bignet
   
 You may find:
wireless spectrum analyzer dBm ; wireless spectrum analyzer Troubleshoot ; wireless spectrum analyzer frequency
 Popular Tags:
spectrum analyzer equalizer test tones | portable spectrum analyzer phase noise | portable spectrum analyzer Adjacent channel power | portable spectrum analyzer benchtop | tin spectrophotometer testing | uv spectrophotometer method ginsenocides | uv visible spectrophotometers | what does a spectrophotometer measure | spectrum analyzers portable | agilent model 8563e spectrum analyzer
Antena Bignet

Tag:wireless spectrum analyzer dBm wireless spectrum analyzer | 61 Viewers| putra-ins04 2007-05-31 15:49:21 Publish:

Salah satu poin terpenting dalam bisnis ISP adalah perangkat. Dalam koneksi wireless di BigNet, perangkat yang mendapat perhatian lebih adalah antena. Awalnya, BigNet menggunakan antena parabolic grid. Tak peduli pelanggan jauh atau dekat dengan access point, semuanya menggunakan antena parabolic. Tentu, harganya sangat mahal. Setelah BigNet mengalami kesulitan impor, baru kemudian memproduksi sendiri antena.
Antena yagi ini sederhana. Bahan yang dibutuhkan adalah sebuah radio atau perangkat wireless indoor tipe eksternal, jumper, kabel ethernet sesuai kebutuhan, dua buah konektor RG 45, sebuah adaptor dan sebuah boks kedap air, serta beberapa mur dan baut. Radio yang digunakan BigNet adalah produk Radio Taiwan dan Singapura yang sudah memperoleh sertifikasi dari Postel. Radio ini kemudian dimasukkan dalam sebuah kotak kedap air buatan Korea seharga Rp20.000. Input berasal dari antena yagi dan output berupa kabel UTP menuju komputer dan adaptor Power on Ethernet.
Antena yagi buatan BigNet, sebenarnya bukan antena orisinal. Namun, adopsi dari beberapa merk antena Yagi buatan luar negeri dengan banyak perubahan. Perubahan yang mendasar adalah perhitungan lebar antarcabang pada antena.
Sedangkan bahan antena yagi ini sama dengan antena yagi lainnya, yakni alumunium yang disepuh dengan perak. Selain antikarat, perak juga dipercaya banyak kalangan pengguna wireless sebagai penghantar yang baik untuk gelombang Wi-Fi. Bahkan kabel jumper pun, BigNet membuat sendiri dari bahanbahan yang mudah diperoleh di Pasar Glodok dan Pasar Kenari.
Power over Ethernet (PoE) yang ada di antena produksi BigNet, awalnya adalah PoE branded seharga Rp100.000. Kemudian, dengan teknisi di BigNet membuat sendiri dengan modal tak lebih dari Rp20.000. Lagi-lagi, tempat bedak menjadi pilihan bahan pembungkusnya. Namun karena pertimbangan estetika, PoE ini dikemas dengan kotak yang mirip PoE impor. Secara teknis, PoE adalah pemanfaatan beberapa jalur tak terpakai dalam kabel ethernet untuk menyalurkan listrik ke radio.
Akhirnya, dengan modal jauh lebih rendah dibandingkan dengan antena impor, produksi BigNet ini bisa menjangkau kawasan yang lebih luas. Bahkan, para teknisi BigNet lebih percaya diri memasang antena buatan sendiri daripada antena impor. Tak heran jika kemudian antena Yagi made in Bintaro ini juga dijual ke berbagai kota di Indonesia. Kisaran harga yang ditawarkan sekitar Rp200.000 per unit belum termasuk radio. Kini, antena yagi ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi BigNet.
TENTANG BIG NET
Ini adalah file versi html http://www.e-jogja.net/download/dokumen/presentasi/w-lan-basic.ppt.G o o g l e yang dihasilkan Google ketika melakukan penjaringan di web.Untuk membuka atau menyimpan halaman ini di bookmark anda, gunakan URL berikut: http://www.google.com/search?q=cache:5Ct0U8v6v0gJ:www.e-jogja.net/download/dokumen/presentasi/w-lan-basic.ppt+teori+tentang+Antena+Yagi&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4
Google tidak memiliki ikatan dengan para pemilik situs ini, dan juga tidak bertanggung jawab atas materi yang terdapat dalam situs ini.
Pernyataan ini hanya muncul pada link yang mengacu ke halaman ini: teori tentang antena yagi
Workshop Wireless LAN
Michael S. Sunggiardi
(michael@sunggiardi.com)
Frekwensi
Frekwensi adalah banyaknya getaran per detik dalam arus listrik yang terus berubah
Satuan frekwensi adalah Hertz disingkat Hz.
Jika arus bergerak lengkap satu getaran per detik, maka frekwensinya 1Hz
Satuan frekwensi lain :
Kilohertz (kHz)
Megahertz (MHz)
Gigahertz (GHz)
Terahertz (THz)
rekwensi Spektrum

Wavelength
Panjang Gelombang atau Wavelength adalah jarak diantara kedua titik yang sama pada satu getaran. Dalam sistem wireless, biasanya diukur dalam satuan meter, sentimeter atau milli meter Frequency dan Wavelength
Frequency dan Wavelength digambarkan dalam persamaan :
dimana :
= wavelength dalam meters
f = frequency dalam Hertz (getaran/detik)
c = kecepatan cahaya (3X108 meter/detik)
Frequency dan Wavelength
Contoh perhitungan panjang gelombang (wavelength) untuk frekwensi 2,4GHz :
Jadi panjang gelombang-nya hanya 12,5 cm
Frekwensi Spektrum dan Panjang Gelombang
Workshop Wireless LAN
Decibels (dB)
Perbandingan daya dalam logaritmik :
dBm adalah nilai 10 log dari sinyal untuk 1 milli Watt
dBW adalah nilai 10 log dari sinyal untuk 1 Watt
Sinyal 100 milli Watt jika dijadikan dBm akan menjadi :
Transmit (Tx) Power
Radio mempunyai daya untuk menyalurkan sinyal pada frekwensi tertentu, daya tersebut disebut Transmit (Tx) Power dan dihitung dari besar enerji yang disalurkan melalui satu lebar frekwensi (bandwidth)
Misalnya, satu radio memiliki Tx Power +18dBm, maka jika di konversi ke Watt akan didapat 0,064 W atau 64 mW.
Received (Rx) Sensitivity
Semua radio memiliki point of no return, yaitu keadaan dimana radio menerima sinyal kurang dari Rx Sensitivity yang ditentukan, dan radio tidak mampu melihat data-nya
Misalnya, 802.11b mempunyai Received Sensitivity of –76 dBm, maka pada level ini, Bit Error Rate (BER) dari 10-5 (99.999%) akan terlihat.
Rx Sensitivity yang sebetulnya dari radio akan bervariasi tergantung dari banyak faktor.
Radiated Power
Dalam sistem wireless, antena digunakan untuk meng-konversi gelombang listrik menjadi gelombang elektromagnit. Besar enerji antena dapat memperbesar sinyal terima dan kirim, yang disebut sebagai Antenna Gain yang diukur dalam :
dBi : relatif terhadap isotropic radiator
dBd: relatif terhadap dipole radiator
dimana 0 dBd = 2,15 dBi
Workshop Wireless LAN
Radiated Power
Pengaturan yang dilakukan oleh FCC harus memenuhi ketentuan dari besarnya daya yang keluar dari antena. Daya ini diukur berdasarkan dua cara :
Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)
diukur dalam dBm = daya di input antena [dBm] + relatif antena gain [dBi]
Effective Radiated Power (ERP) diukur dalam dBm = daya di input antena [dBm] + relatif antena gain [dBd]
Kehilangan Daya
Pada sistem wireless, ada banyak faktor yang menyebabkan kehilangan kekuatan sinyal, seperti kabel, konektor, penangkal petir dan lainnya yang akan menyebabkan turunnya unjuk kerja dari radio jika dipasang sembarangan
Pada radio yang daya-nya rendah seperti 802.11b, setiap dB adalah sangat berarti, dan harus diingat “3 dB Rule”.
Setiap kenaikan atau kehilangan 3 dB, kita akan mendapatkan dua kali lipat daya atau kehilangan setengahnya . Kehilangan Daya
-3 dB = 1/2 daya
-6 dB = 1/4 daya
+3 dB = 2x daya
+6 dB = 4x daya
Sumber yang menyebabkan kehilangan daya dalam sistem wireless : free space, kabel, konektor, jumper, hal-hal yang tidak terlihat.
3dB Rule bisa diterapkan secara prak-tis dengan bantuan antena
Access Point dengan standar 802.11b mempunyai penguatan 13dB untuk jarak 300 meter, maka kalau kita menggunakan antena 15dB (total 28dB) rumusannya menjadi :
13 + 3 dB – jaraknya menjadi 600 meter
16 + 3 dB – jaraknya menjadi 1,2 KM
19 + 3 dB – jaraknya menjadi 2,4 KM
21 + 3 dB – jaraknya menjadi 4,8 KM
24 + 3 dB – jaraknya menjadi 9,6 KM
1dB dianggap loss ….
Direct Sequence Spread Spectrum
Dikenal juga sebagai Direct Sequence Code Division Multiple Access (DS-CDMA), DSSS merupakan salah satu cara untuk menyebarkan modulasi sinyal digital di udara.
Rentetan informasi dikirim dengan membagi sekecil mungkin sinyal, lalu ditumpangkan pada kanal frekwensi yang ada di dalam spektrum tertentu.
Direct Sequence Spread Spectrum
Pada saat dipancarkan, data di kombinasi dengan rentetan bit data yang lebih tinggi (disebut chipping code) untuk kemudian datanya dibagi menurut rasio tertentu.
Transmitter dan Receiver harus di sinkronisasi dengan kode acak yang sama.
Chipping code membantu sinyal lebih tahan terhadap interference dan juga memungkinkan data aslinya bisa di perbaiki jika ternyata rusak selama pengiriman.
Direct Sequence Spread Spectrum
Sinyal yang sudah di acak dan digabung dengan sinyal lain, dimana bandwidth-nya adalah 22MHz
Direct Sequence Spread Spectrum
Sinyal yang dilihat di spectrum analyzer
Frequency Hopping Spread Spectrum
Dikenal juga sebagai Frequency Hopping Code Division Multiple Access (FH-CDMA), radio FHSS dipancarkan dengan meloncat-loncat diantara frekwensi yang sudah tersedia dan mengikuti satu alogaritma tertentu, baik secara acak atau tertentu.
Transmitter di sinkronisasi dengan Receiver, sehingga tetap berada di frekwensi tengah-nya
Frequency Hopping Spread Spectrum
Sinyal FHSS
TIME
Setiap kanal = 1MHz
Hopset Sgnal Propagation
Sinyal yang meninggalkan antena, maka akan merambat dan menghilang di udara. Pemilihan antena akan menentukan bagaimana jenis rambatan yang akan terjadi.
Pada 2,4 GHz sangat penting jika kita memasang kedua perangkat pada jalur yang bebas dari halangan. Jika rambatan sinyal terganggu, maka penurunan kwalitas sinyal akan terjadi dan mengganggu komunikasinya.
Pohon, gedung, tanki air, dan tower adalah perangkat yang sering mengganggu rambatan sinyal
Signal Propagation
Kehilangan daya terbesar dalam sistem wireless adalah Free Space Propagation Loss. Free Space Loss dihitung dengan rumus :
FSL(dB) = 32.45 + 20 Log10 F(MHz) + 20 Log10 D(km)
Jadi Free Space Loss pada jarak 1 km yang menggunakan frekwensi 2.4 GHz :
FSL(dB) = 32.45 + 20 Log10 (2400) + 20 Log10 (1)
= 32.45 + 67.6 + 0
= 100.05 dB
Line of Sight
Menerapkan Line of Sight (LOS) antara antena radio pengirim dan penerima merupakan hal paling penting
Ada dua jenis LOS yang kita harus perhatikan :
Optical LOS – kemampuan untuk saling melihat antara satu tempat dengan tempat lainnya
Radio LOS – kemampuan radio penerima untuk ‘melihat’ sinyal yang dipancarkan
Line of Sight
Untuk menentukan Line of Sight, teori Fresnel Zone harus diterapkan. Fresnel Zone adalah bentuk bola rugby yang berada diantara dua titik yang membentuk jalur sinyal RF.
WaveRider masih dapat bekerja pada kondisi Line of Sight minimal 60% dari Fresnel Zone pertama ditambah 3 meter yang bebas dari gangguan atau halangan.
Line of Sight
Fresnel Zones Fresnel Zones Titik A
Titik B
Diameter Fresnel Zone tergantung panjang gelombang, jarak antara dua titik.
Untuk mendapatkan gangguan dan kehilangan yang besar, kita harus mendapatkan jalur yang bersih pada 0.6F1+ 3m

d2
d1
Radius of n th Fresnel Zone given by:
=Fresnel Zones
Pada saat terjadi gangguan di Fresnel Zone pertama, akan banyak terjadi berbagai masalah yang akan berakibat di menurun-nya unjuk kerja.
Masalah utamanya adalah :
Reflection
gelombang yang merambat diluar kurva
multipath fading terjadi pada saat gelom- bang yang kedua tiba yang menyebabkan penurunan kwalitas sinyal
Fresnel Zones
Refraction
gelombang yang merambat di dalam kurva bergerak membentuk sudut
frekwensi yang kurang dari 10GHz tidak berpengaruh terhadap hujan besar atau kabut
Pada 2,4 GHz, redamannya 0.01 dB/Km untuk keadaan hujan 150mm/hr
Diffraction
gelombang merambat disekitar gangguan menuju ke bagian bayang-bayang

Fresnel Zones Karakteristik jalur dapat berubah setiap saat, tergantung keadaan.
Fresnel Zones
Antena
Antena mengubah getaran listrik dari radio menjadi getaran elektro magnetik yang disalurkan melalui udara.
Ukuran fisik dari radiasinya akan setara dengan panjang gelombangnya. Semakin tinggi frekwensinya, antena-nya akan semakin kecil
Kedua perangkat radio harus bekerja di frekwensi yang sama, dan antena akan melakukan dua pekerjaan sekaligus, mengirim dan menerima sinyal.
Antena
Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akan kita bangun, juga disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran sinyalnya. Ada dua jenis antena secara umum :
1. Directional
2. Omni Directional Antena Directional
Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, contohnya : antena Yagi, Panel, Sektoral dan antena Parabolik
802.11b yang dipakai sebagai Station atau Master bisa menggunakan jenis antena ini di kedua titik, baik untuk Point to Point atau Point to Multipoint
Antena Omni-Directional
Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 3600; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas
Omni antena tidak dianjurkan pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas se-hingga ada kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan inter-ferensi.
Antena Yagi
Sangat cocok untuk jarak pendek
Gain-nya rendah biasanya antara 7 sampai 15 dBi
Antena Yagi
Pola radiasi dari antena Yagi
Antena Parabolik
Dipakai untuk jarak menengah atau jarak jauh
Gain-nya bisa antara 18 sampai 28 dBi
Antena Parabolik
Pola radiasi dari antena Parabolik
Antena Paraboliktena Sektoral
Pada dasarnya adalah antena directional, hanya bisa diatur antara 450 sampai 1800
Gain-nya antara 10 sampai 19 dBi
Antena Sektoral
Pola radiasi dari antena Sektoral
Antena Sektoral
Antena Sektoral
Antena Omni
Dipakai oleh radio base untuk daerah pelayanan yang luas
Gain-nya antara 3 sampai 10 dBi
Antena Omni
Pola radiasi dari antena Omni
Antena Omni
Pola Radiasi Antena
Parameter umum :
main lobe (boresight)
half-power beamwidth (HPBW)
front-back ratio (F/B)
pattern nulls
Biasanya, diukur pada dua keadaan :
Vector electric field yang mengacu pada E-field
Vector magnetic field yang mengacu pada H-field

Polarisasi
Polarisasi antena relatif terhadap E-field dari antena.
Jika E-field-nya horisontal, maka antenanya Horizontally Polarized.
Jika E-field vertikal, maka antenanya Vertically Polarized.
Polarisasi apapun yang dipilih, antena pada satu jaringan RF harus memiliki polarisasi yang sama
Polarisasi
Polarisasi dapat dimanfaatkan untuk :
Meningkatkan isolasi dari sinyal yang tidak diinginkan (Cross Polarization Discrimination (x-pol) biasanya sekitar 25 dB)
Mengurangi interferensi
Membantu menentukan satu daerah pelayanan tertentu
Polarisasi
Jenis polarisasai pada beberapa macam antena
Horizontal
Vertica
Impedansi Antena
Impedansi yang cocok akan menghasilkan pemindahan daya yang maksimum. Antena juga berfungsi sebagai matching load-nya transmitter (50 Ohms)
Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) adalah satuan yang menunjukan sampai dimana antena sesuai (match) dengan jalur transmisi yang dikirimnya.
Impedansi Antena
VSWR adalah rasio dari tegangan yang keluar dari antena dengan tegangan pantulan.
Kesesuaian didapatkan jika nilai VSWR menjadi sekecil mungkin, nilai 1,5:1 pada pita frekwensi yang dipakai merupakan batasan maksimum
Return Loss
Return Loss berhubungan dengan VSWR, yaitu mengukur daya dari sinyal yang dipantulkan oleh antena dengan daya yang dikirim ke antena.
Semakin besar nilainya (dalam satuan dB), semakin baik. Angka 13.9dB sama dengan VSWR 1,5:1. Return Loss 20dB adalah nilai yang cukup bagus, dan setara dengan VSWR of 1,2:1
Return Loss
Tabel perbandingan VSWR dengan kehilangan daya.
Sambungan Antena
Sambungan antena harus diperhatikan
Sambungan Antena
Pemakaian selotape harus betul-betul diperhatikan
Kabel
Pemilihan jenis kabel harus disesuaikan dengan panjang kabel yang akan dipakai. Semakin panjang jarak yang ditempuh, kwalitas kabel harus semakin baik.
Redaman akan menunjukan penurunan daya sinyal yang merambat di kabel, biasanya dihitung dalam bentuk redaman dalam dB untuk setiap 100 feet.
Andrew Corporation Heliax
Times Microwave
LMR types
Tabel Redaman Kabel
Konektor
Pemilihan konektor akan disesuaikan oleh beberapa kondisi :
- Jenis konektor di antena
- Jenis kabel yang dipakai
- Jenis penangkal petir yang dipakai
- Jenis jumper yang dipakai
Konektor
Beberapa jenis konektor yang biasa dipakai
Penangkal Petir
Untuk menghindari sambaran petir, kita harus menggunakan penangkal petir.
Untuk proteksi yang maksimum, ground harus disambung ke dekat bangunan, maksimal 2 feet.
Jangan menggunakan pipa gas atau pipa air sebagai ground, dan periksa tahanan listrik ground-nya.
Contoh Anti Petir
Perhitungan Link Budget
Untuk membuat satu sambungan tanpa kabel yang baik, kita harus memenuhi ketentuan yang hasilnya didapat dari perhitungan Link Budget.
Dengan melakukan perhitungan ini, kita mendapat gambaran berapa besar path loss yang kita dapatkan, sehingga akhirnya dapat menentukan kwalitas dari jalurnya.
WaveRider Link Path Analysis Tool (LPA Tool) adalah program Excel yang sangat mudah dijalankan, untuk menghitung semua parameternya.
Perhitungan Link Budget
Fade Margin
Merupakan satuan yang menunjukan perbedaan antara Receive Signal Level RSL, dan Rx Threshold atau referensi lainnya.
Untuk jarak kurang dari 16km, Fade Margin minimum yang dianjurkan adalah 10dB
Dengan asumsi, kita memiliki RSL–60dB dan Rx Threshold –84dB, maka kita akan mempunyai fade Margin 24 dB
Perhitungan Link Budget
Path Loss (dB)

Field Factor (dB)

Antenna Gain

(dBi)

Cable Losses

(dB)

Connector

Losses

(dB)

Connector

Losses

(dB)

Cable Losses

(dB)

A

B

Received Signal Level

(dBm) = Tx Output (dBm) - Path

Loss(dB) - Field Factor (dB) + Total Antenna Gains (dB) - Total

Cable Losses (dB) - Total Connector Losses (dB)

Antenna Gain

(dBi)

Tx Output (dBm)
Tx Output (dBm)
Perhitungan Link Budget
Ketentuan FCC sekitar 802.11
Ketentuan FCC sekitar 802.11

Apabila memasang perangkat Wireless LAN di dalam ruangan, kita tidak perlu memperhatikan beberapa hal-hal yang disebutkan, cukup dengan langsung melihat access point-nya dan jarak maksimalnya.
Semua ketentuan antena, SOM dan lainnya hanya berlaku pada kondisi pemasangan di luar ruangan.
Untuk yang outdoor sebetulnya harus mengikuti standar IEEE 802.16 yaitu Wireless MAN atau WAN, tapi sampai saat ini harganya masih terlalu mahal dan belum ada kesepakatan tentang sistem-nya
Akhirnya, banyak dipakai indoor unit dengan menggunakan amplifier atau penguat, yang sangat tidak dianjurkan
Indoor Unit dengan antena luar, bisa menjadi Outdoor Unit dan dipakai dalam jarak sekitar 8 km, menggu-nakan Compex atau Planet (~USD 200)
Indoor Unit Compex dengan antena luar dan pig tail (~ USD 200)
Outdoor Unit dengan menggunakan antena luar, jaraknya bisa sampai 40 km dengan menggunakan WaveRider (~ USD 1.500)
Untuk outdoor unit dengan jumlah pelanggan banyak, dipakai Cirronet dengan kemampuan menangani sampai 1.200 pelanggan dalam satu rack 19” (~ USD 10.000) Konfigurasi Cirronet
Access Point berbentuk 19” Rack
Subscriber Unit di komputer
Radio dari Subscriber Unit
Radio dan Antena Cirronet di Sudan
Perangkat Site Survey
Spectrum Analyzer (3GHz) untuk mengukur daya transmit, sinyal Input, keadaan sinyal RF di tempat yang bersang-kutan dan interferensi yang terjadi.
2. Strobe Light, Flashlight, Kaca, Binocular atau Telescope yang bermanfaat untuk meng-evaluasi Line-of-Sight dari tempat-tempat yang akan dipasang
Spectrum Analyzer
Perangkat Site Survey
3. Meteran, minimal 10 meter
4. Peta Topografik 1:50.000 atau peta komputer
5. Hand-held GPS dengan fungsi kompas dan Altimeter atau Elevation Gauge
6. Topi dan ban keselamatan
7. Tangga
Ban Keselamatan untuk naik ke tower
Perangkat penunjang akses Internet
WatchGuard Firewall
Allot Bandwidth Limiter
KVM Switch
Cisco Router
Cisco Router
Compex Switch
HDSL Modem
Yahoo: wireless spectrum analyzer Antena Bignet wireless spectrum analyzer dBm
Google: wireless spectrum analyzer dBm Antena Bignet wireless spectrum analyzer
Post your comment about:    Antena Bignet

   

Topics: Detector Oscilloscope Signal Generator Spectrum Analyzer
All Contents was collected by orders.If you have any problem please Click Me © 2008 Measuring Instruments Time 0.113220 S(s).Query 5.