|
Antena Bignet
Antena yagi ini sederhana. Bahan yang dibutuhkan adalah sebuah radio atau perangkat wireless indoor tipe eksternal, jumper, kabel ethernet sesuai kebutuhan, dua buah konektor RG 45, sebuah adaptor dan sebuah boks kedap air, serta beberapa mur dan baut. Radio yang digunakan BigNet adalah produk Radio Taiwan dan Singapura yang sudah memperoleh sertifikasi dari Postel. Radio ini kemudian dimasukkan dalam sebuah kotak kedap air buatan Korea seharga Rp20.000. Input berasal dari antena yagi dan output berupa kabel UTP menuju komputer dan adaptor Power on Ethernet. Antena yagi buatan BigNet, sebenarnya bukan antena orisinal. Namun, adopsi dari beberapa merk antena Yagi buatan luar negeri dengan banyak perubahan. Perubahan yang mendasar adalah perhitungan lebar antarcabang pada antena. Sedangkan bahan antena yagi ini sama dengan antena yagi lainnya, yakni alumunium yang disepuh dengan perak. Selain antikarat, perak juga dipercaya banyak kalangan pengguna wireless sebagai penghantar yang baik untuk gelombang Wi-Fi. Bahkan kabel jumper pun, BigNet membuat sendiri dari bahanbahan yang mudah diperoleh di Pasar Glodok dan Pasar Kenari. Power over Ethernet (PoE) yang ada di antena produksi BigNet, awalnya adalah PoE branded seharga Rp100.000. Kemudian, dengan teknisi di BigNet membuat sendiri dengan modal tak lebih dari Rp20.000. Lagi-lagi, tempat bedak menjadi pilihan bahan pembungkusnya. Namun karena pertimbangan estetika, PoE ini dikemas dengan kotak yang mirip PoE impor. Secara teknis, PoE adalah pemanfaatan beberapa jalur tak terpakai dalam kabel ethernet untuk menyalurkan listrik ke radio. Akhirnya, dengan modal jauh lebih rendah dibandingkan dengan antena impor, produksi BigNet ini bisa menjangkau kawasan yang lebih luas. Bahkan, para teknisi BigNet lebih percaya diri memasang antena buatan sendiri daripada antena impor. Tak heran jika kemudian antena Yagi made in Bintaro ini juga dijual ke berbagai kota di Indonesia. Kisaran harga yang ditawarkan sekitar Rp200.000 per unit belum termasuk radio. Kini, antena yagi ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi BigNet. TENTANG BIG NET Ini adalah file versi html http://www.e-jogja.net/download/dokumen/presentasi/w-lan-basic.ppt.G o o g l e yang dihasilkan Google ketika melakukan penjaringan di web.Untuk membuka atau menyimpan halaman ini di bookmark anda, gunakan URL berikut: http://www.google.com/search?q=cache:5Ct0U8v6v0gJ:www.e-jogja.net/download/dokumen/presentasi/w-lan-basic.ppt+teori+tentang+Antena+Yagi&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4 Google tidak memiliki ikatan dengan para pemilik situs ini, dan juga tidak bertanggung jawab atas materi yang terdapat dalam situs ini. Pernyataan ini hanya muncul pada link yang mengacu ke halaman ini: teori tentang antena yagi Workshop Wireless LAN Michael S. Sunggiardi (michael@sunggiardi.com) Frekwensi Frekwensi adalah banyaknya getaran per detik dalam arus listrik yang terus berubah Satuan frekwensi adalah Hertz disingkat Hz. Jika arus bergerak lengkap satu getaran per detik, maka frekwensinya 1Hz Satuan frekwensi lain : Kilohertz (kHz) Megahertz (MHz) Gigahertz (GHz) Terahertz (THz) rekwensi Spektrum Wavelength Panjang Gelombang atau Wavelength adalah jarak diantara kedua titik yang sama pada satu getaran. Dalam sistem wireless, biasanya diukur dalam satuan meter, sentimeter atau milli meter Frequency dan Wavelength Frequency dan Wavelength digambarkan dalam persamaan : dimana : = wavelength dalam meters f = frequency dalam Hertz (getaran/detik) c = kecepatan cahaya (3X108 meter/detik) Frequency dan Wavelength Contoh perhitungan panjang gelombang (wavelength) untuk frekwensi 2,4GHz : Jadi panjang gelombang-nya hanya 12,5 cm Frekwensi Spektrum dan Panjang Gelombang Workshop Wireless LAN Decibels (dB) Perbandingan daya dalam logaritmik : dBm adalah nilai 10 log dari sinyal untuk 1 milli Watt dBW adalah nilai 10 log dari sinyal untuk 1 Watt Sinyal 100 milli Watt jika dijadikan dBm akan menjadi : Transmit (Tx) Power Radio mempunyai daya untuk menyalurkan sinyal pada frekwensi tertentu, daya tersebut disebut Transmit (Tx) Power dan dihitung dari besar enerji yang disalurkan melalui satu lebar frekwensi (bandwidth) Misalnya, satu radio memiliki Tx Power +18dBm, maka jika di konversi ke Watt akan didapat 0,064 W atau 64 mW. Received (Rx) Sensitivity Semua radio memiliki point of no return, yaitu keadaan dimana radio menerima sinyal kurang dari Rx Sensitivity yang ditentukan, dan radio tidak mampu melihat data-nya Misalnya, 802.11b mempunyai Received Sensitivity of –76 dBm, maka pada level ini, Bit Error Rate (BER) dari 10-5 (99.999%) akan terlihat. Rx Sensitivity yang sebetulnya dari radio akan bervariasi tergantung dari banyak faktor. Radiated Power Dalam sistem wireless, antena digunakan untuk meng-konversi gelombang listrik menjadi gelombang elektromagnit. Besar enerji antena dapat memperbesar sinyal terima dan kirim, yang disebut sebagai Antenna Gain yang diukur dalam : dBi : relatif terhadap isotropic radiator dBd: relatif terhadap dipole radiator dimana 0 dBd = 2,15 dBi Workshop Wireless LAN Radiated Power Pengaturan yang dilakukan oleh FCC harus memenuhi ketentuan dari besarnya daya yang keluar dari antena. Daya ini diukur berdasarkan dua cara : Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) diukur dalam dBm = daya di input antena [dBm] + relatif antena gain [dBi] Effective Radiated Power (ERP) diukur dalam dBm = daya di input antena [dBm] + relatif antena gain [dBd] Kehilangan Daya Pada sistem wireless, ada banyak faktor yang menyebabkan kehilangan kekuatan sinyal, seperti kabel, konektor, penangkal petir dan lainnya yang akan menyebabkan turunnya unjuk kerja dari radio jika dipasang sembarangan Pada radio yang daya-nya rendah seperti 802.11b, setiap dB adalah sangat berarti, dan harus diingat “3 dB Rule”. Setiap kenaikan atau kehilangan 3 dB, kita akan mendapatkan dua kali lipat daya atau kehilangan setengahnya . Kehilangan Daya -3 dB = 1/2 daya -6 dB = 1/4 daya +3 dB = 2x daya +6 dB = 4x daya Sumber yang menyebabkan kehilangan daya dalam sistem wireless : free space, kabel, konektor, jumper, hal-hal yang tidak terlihat. 3dB Rule bisa diterapkan secara prak-tis dengan bantuan antena Access Point dengan standar 802.11b mempunyai penguatan 13dB untuk jarak 300 meter, maka kalau kita menggunakan antena 15dB (total 28dB) rumusannya menjadi : 13 + 3 dB – jaraknya menjadi 600 meter 16 + 3 dB – jaraknya menjadi 1,2 KM 19 + 3 dB – jaraknya menjadi 2,4 KM 21 + 3 dB – jaraknya menjadi 4,8 KM 24 + 3 dB – jaraknya menjadi 9,6 KM 1dB dianggap loss …. Direct Sequence Spread Spectrum Dikenal juga sebagai Direct Sequence Code Division Multiple Access (DS-CDMA), DSSS merupakan salah satu cara untuk menyebarkan modulasi sinyal digital di udara. Rentetan informasi dikirim dengan membagi sekecil mungkin sinyal, lalu ditumpangkan pada kanal frekwensi yang ada di dalam spektrum tertentu. Direct Sequence Spread Spectrum Pada saat dipancarkan, data di kombinasi dengan rentetan bit data yang lebih tinggi (disebut chipping code) untuk kemudian datanya dibagi menurut rasio tertentu. Transmitter dan Receiver harus di sinkronisasi dengan kode acak yang sama. Chipping code membantu sinyal lebih tahan terhadap interference dan juga memungkinkan data aslinya bisa di perbaiki jika ternyata rusak selama pengiriman. Direct Sequence Spread Spectrum Sinyal yang sudah di acak dan digabung dengan sinyal lain, dimana bandwidth-nya adalah 22MHz Direct Sequence Spread Spectrum Sinyal yang dilihat di spectrum analyzer Frequency Hopping Spread Spectrum Dikenal juga sebagai Frequency Hopping Code Division Multiple Access (FH-CDMA), radio FHSS dipancarkan dengan meloncat-loncat diantara frekwensi yang sudah tersedia dan mengikuti satu alogaritma tertentu, baik secara acak atau tertentu. Transmitter di sinkronisasi dengan Receiver, sehingga tetap berada di frekwensi tengah-nya Frequency Hopping Spread Spectrum Sinyal FHSS TIME Setiap kanal = 1MHz Hopset Sgnal Propagation Sinyal yang meninggalkan antena, maka akan merambat dan menghilang di udara. Pemilihan antena akan menentukan bagaimana jenis rambatan yang akan terjadi. Pada 2,4 GHz sangat penting jika kita memasang kedua perangkat pada jalur yang bebas dari halangan. Jika rambatan sinyal terganggu, maka penurunan kwalitas sinyal akan terjadi dan mengganggu komunikasinya. Pohon, gedung, tanki air, dan tower adalah perangkat yang sering mengganggu rambatan sinyal Signal Propagation Kehilangan daya terbesar dalam sistem wireless adalah Free Space Propagation Loss. Free Space Loss dihitung dengan rumus : FSL(dB) = 32.45 + 20 Log10 F(MHz) + 20 Log10 D(km) Jadi Free Space Loss pada jarak 1 km yang menggunakan frekwensi 2.4 GHz : FSL(dB) = 32.45 + 20 Log10 (2400) + 20 Log10 (1) = 32.45 + 67.6 + 0 = 100.05 dB Line of Sight Menerapkan Line of Sight (LOS) antara antena radio pengirim dan penerima merupakan hal paling penting Ada dua jenis LOS yang kita harus perhatikan : Optical LOS – kemampuan untuk saling melihat antara satu tempat dengan tempat lainnya Radio LOS – kemampuan radio penerima untuk ‘melihat’ sinyal yang dipancarkan Line of Sight Untuk menentukan Line of Sight, teori Fresnel Zone harus diterapkan. Fresnel Zone adalah bentuk bola rugby yang berada diantara dua titik yang membentuk jalur sinyal RF. WaveRider masih dapat bekerja pada kondisi Line of Sight minimal 60% dari Fresnel Zone pertama ditambah 3 meter yang bebas dari gangguan atau halangan. Line of Sight Fresnel Zones Fresnel Zones Titik A Titik B Diameter Fresnel Zone tergantung panjang gelombang, jarak antara dua titik. Untuk mendapatkan gangguan dan kehilangan yang besar, kita harus mendapatkan jalur yang bersih pada 0.6F1+ 3m d2 d1 Radius of n th Fresnel Zone given by: =Fresnel Zones Pada saat terjadi gangguan di Fresnel Zone pertama, akan banyak terjadi berbagai masalah yang akan berakibat di menurun-nya unjuk kerja. Masalah utamanya adalah : Reflection gelombang yang merambat diluar kurva multipath fading terjadi pada saat gelom- bang yang kedua tiba yang menyebabkan penurunan kwalitas sinyal Fresnel Zones Refraction gelombang yang merambat di dalam kurva bergerak membentuk sudut frekwensi yang kurang dari 10GHz tidak berpengaruh terhadap hujan besar atau kabut Pada 2,4 GHz, redamannya 0.01 dB/Km untuk keadaan hujan 150mm/hr Diffraction gelombang merambat disekitar gangguan menuju ke bagian bayang-bayang Fresnel Zones Karakteristik jalur dapat berubah setiap saat, tergantung keadaan. Fresnel Zones Antena Antena mengubah getaran listrik dari radio menjadi getaran elektro magnetik yang disalurkan melalui udara. Ukuran fisik dari radiasinya akan setara dengan panjang gelombangnya. Semakin tinggi frekwensinya, antena-nya akan semakin kecil Kedua perangkat radio harus bekerja di frekwensi yang sama, dan antena akan melakukan dua pekerjaan sekaligus, mengirim dan menerima sinyal. Antena Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akan kita bangun, juga disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran sinyalnya. Ada dua jenis antena secara umum : 1. Directional 2. Omni Directional Antena Directional Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, contohnya : antena Yagi, Panel, Sektoral dan antena Parabolik 802.11b yang dipakai sebagai Station atau Master bisa menggunakan jenis antena ini di kedua titik, baik untuk Point to Point atau Point to Multipoint Antena Omni-Directional Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 3600; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak dianjurkan pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas se-hingga ada kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan inter-ferensi. Antena Yagi Sangat cocok untuk jarak pendek Gain-nya rendah biasanya antara 7 sampai 15 dBi Antena Yagi Pola radiasi dari antena Yagi Antena Parabolik Dipakai untuk jarak menengah atau jarak jauh Gain-nya bisa antara 18 sampai 28 dBi Antena Parabolik Pola radiasi dari antena Parabolik Antena Paraboliktena Sektoral Pada dasarnya adalah antena directional, hanya bisa diatur antara 450 sampai 1800 Gain-nya antara 10 sampai 19 dBi Antena Sektoral Pola radiasi dari antena Sektoral Antena Sektoral Antena Sektoral Antena Omni Dipakai oleh radio base untuk daerah pelayanan yang luas Gain-nya antara 3 sampai 10 dBi Antena Omni Pola radiasi dari antena Omni Antena Omni Pola Radiasi Antena Parameter umum : main lobe (boresight) half-power beamwidth (HPBW) front-back ratio (F/B) pattern nulls Biasanya, diukur pada dua keadaan : Vector electric field yang mengacu pada E-field Vector magnetic field yang mengacu pada H-field Polarisasi Polarisasi antena relatif terhadap E-field dari antena. Jika E-field-nya horisontal, maka antenanya Horizontally Polarized. Jika E-field vertikal, maka antenanya Vertically Polarized. Polarisasi apapun yang dipilih, antena pada satu jaringan RF harus memiliki polarisasi yang sama Polarisasi Polarisasi dapat dimanfaatkan untuk : Meningkatkan isolasi dari sinyal yang tidak diinginkan (Cross Polarization Discrimination (x-pol) biasanya sekitar 25 dB) Mengurangi interferensi Membantu menentukan satu daerah pelayanan tertentu Polarisasi Jenis polarisasai pada beberapa macam antena Horizontal Vertica Impedansi Antena Impedansi yang cocok akan menghasilkan pemindahan daya yang maksimum. Antena juga berfungsi sebagai matching load-nya transmitter (50 Ohms) Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) adalah satuan yang menunjukan sampai dimana antena sesuai (match) dengan jalur transmisi yang dikirimnya. Impedansi Antena VSWR adalah rasio dari tegangan yang keluar dari antena dengan tegangan pantulan. Kesesuaian didapatkan jika nilai VSWR menjadi sekecil mungkin, nilai 1,5:1 pada pita frekwensi yang dipakai merupakan batasan maksimum Return Loss Return Loss berhubungan dengan VSWR, yaitu mengukur daya dari sinyal yang dipantulkan oleh antena dengan daya yang dikirim ke antena. Semakin besar nilainya (dalam satuan dB), semakin baik. Angka 13.9dB sama dengan VSWR 1,5:1. Return Loss 20dB adalah nilai yang cukup bagus, dan setara dengan VSWR of 1,2:1 Return Loss Tabel perbandingan VSWR dengan kehilangan daya. Sambungan Antena Sambungan antena harus diperhatikan Sambungan Antena Pemakaian selotape harus betul-betul diperhatikan Kabel Pemilihan jenis kabel harus disesuaikan dengan panjang kabel yang akan dipakai. Semakin panjang jarak yang ditempuh, kwalitas kabel harus semakin baik. Redaman akan menunjukan penurunan daya sinyal yang merambat di kabel, biasanya dihitung dalam bentuk redaman dalam dB untuk setiap 100 feet. Andrew Corporation Heliax Times Microwave LMR types Tabel Redaman Kabel Konektor Pemilihan konektor akan disesuaikan oleh beberapa kondisi : - Jenis konektor di antena - Jenis kabel yang dipakai - Jenis penangkal petir yang dipakai - Jenis jumper yang dipakai Konektor Beberapa jenis konektor yang biasa dipakai Penangkal Petir Untuk menghindari sambaran petir, kita harus menggunakan penangkal petir. Untuk proteksi yang maksimum, ground harus disambung ke dekat bangunan, maksimal 2 feet. Jangan menggunakan pipa gas atau pipa air sebagai ground, dan periksa tahanan listrik ground-nya. Contoh Anti Petir Perhitungan Link Budget Untuk membuat satu sambungan tanpa kabel yang baik, kita harus memenuhi ketentuan yang hasilnya didapat dari perhitungan Link Budget. Dengan melakukan perhitungan ini, kita mendapat gambaran berapa besar path loss yang kita dapatkan, sehingga akhirnya dapat menentukan kwalitas dari jalurnya. WaveRider Link Path Analysis Tool (LPA Tool) adalah program Excel yang sangat mudah dijalankan, untuk menghitung semua parameternya. Perhitungan Link Budget Fade Margin Merupakan satuan yang menunjukan perbedaan antara Receive Signal Level RSL, dan Rx Threshold atau referensi lainnya. Untuk jarak kurang dari 16km, Fade Margin minimum yang dianjurkan adalah 10dB Dengan asumsi, kita memiliki RSL–60dB dan Rx Threshold –84dB, maka kita akan mempunyai fade Margin 24 dB Perhitungan Link Budget Path Loss (dB) Field Factor (dB) Antenna Gain (dBi) Cable Losses (dB) Connector Losses (dB) Connector Losses (dB) Cable Losses (dB) A B Received Signal Level (dBm) = Tx Output (dBm) - Path Loss(dB) - Field Factor (dB) + Total Antenna Gains (dB) - Total Cable Losses (dB) - Total Connector Losses (dB) Antenna Gain (dBi) Tx Output (dBm) Tx Output (dBm) Perhitungan Link Budget Ketentuan FCC sekitar 802.11 Ketentuan FCC sekitar 802.11 Apabila memasang perangkat Wireless LAN di dalam ruangan, kita tidak perlu memperhatikan beberapa hal-hal yang disebutkan, cukup dengan langsung melihat access point-nya dan jarak maksimalnya. Semua ketentuan antena, SOM dan lainnya hanya berlaku pada kondisi pemasangan di luar ruangan. Untuk yang outdoor sebetulnya harus mengikuti standar IEEE 802.16 yaitu Wireless MAN atau WAN, tapi sampai saat ini harganya masih terlalu mahal dan belum ada kesepakatan tentang sistem-nya Akhirnya, banyak dipakai indoor unit dengan menggunakan amplifier atau penguat, yang sangat tidak dianjurkan Indoor Unit dengan antena luar, bisa menjadi Outdoor Unit dan dipakai dalam jarak sekitar 8 km, menggu-nakan Compex atau Planet (~USD 200) Indoor Unit Compex dengan antena luar dan pig tail (~ USD 200) Outdoor Unit dengan menggunakan antena luar, jaraknya bisa sampai 40 km dengan menggunakan WaveRider (~ USD 1.500) Untuk outdoor unit dengan jumlah pelanggan banyak, dipakai Cirronet dengan kemampuan menangani sampai 1.200 pelanggan dalam satu rack 19” (~ USD 10.000) Konfigurasi Cirronet Access Point berbentuk 19” Rack Subscriber Unit di komputer Radio dari Subscriber Unit Radio dan Antena Cirronet di Sudan Perangkat Site Survey Spectrum Analyzer (3GHz) untuk mengukur daya transmit, sinyal Input, keadaan sinyal RF di tempat yang bersang-kutan dan interferensi yang terjadi. 2. Strobe Light, Flashlight, Kaca, Binocular atau Telescope yang bermanfaat untuk meng-evaluasi Line-of-Sight dari tempat-tempat yang akan dipasang Spectrum Analyzer Perangkat Site Survey 3. Meteran, minimal 10 meter 4. Peta Topografik 1:50.000 atau peta komputer 5. Hand-held GPS dengan fungsi kompas dan Altimeter atau Elevation Gauge 6. Topi dan ban keselamatan 7. Tangga Ban Keselamatan untuk naik ke tower Perangkat penunjang akses Internet WatchGuard Firewall Allot Bandwidth Limiter KVM Switch Cisco Router Cisco Router Compex Switch HDSL Modem Yahoo: wireless spectrum analyzer Antena Bignet wireless spectrum analyzer dBm Google: wireless spectrum analyzer dBm Antena Bignet wireless spectrum analyzer |
Related
Spectrum Analyzer Latest
›› Audio Enhancement Megapack for All Playe
›› DFX Audio Enhancher For Winamp v9.013 LA
›› "Jamestown 2007" Events Are Already Maki
›› SG26 - Spectrum analyzer service
›› Spectrum Analysis
›› AnalyzeAir Wi-Fi Spectrum Analyzer
›› PESAN-PESAN SETAN DIBALIK LAGU-LAGU POPU
›› SWA Mastering with iZotope Ozone (Video
›› Streamworks Audio Complete SONAR 8 video
›› Waves Plug-Ins CSI Master (Video Tutoria
›› Download PowerMP3 v1.14 For Nokia s60v5
›› Voxengo.Voxformer.VST.v2.1.Incl.Serial-f
›› DFX Audio Enhancher For Winamp v9.013 LA
›› "Jamestown 2007" Events Are Already Maki
›› SG26 - Spectrum analyzer service
›› Spectrum Analysis
›› AnalyzeAir Wi-Fi Spectrum Analyzer
›› PESAN-PESAN SETAN DIBALIK LAGU-LAGU POPU
›› SWA Mastering with iZotope Ozone (Video
›› Streamworks Audio Complete SONAR 8 video
›› Waves Plug-Ins CSI Master (Video Tutoria
›› Download PowerMP3 v1.14 For Nokia s60v5
›› Voxengo.Voxformer.VST.v2.1.Incl.Serial-f
Spectrum Analyzer Popular
›› Download PowerMP3 v1.14 For Nokia s60v5
›› Clear Esn Ready
›› Antena Bignet
›› Waves Plug-Ins CSI Master (Video Tutoria
›› PHARMACEUTICAL ANALYSIS - II (THEORY)
›› Anritsu Site Master Connection Great New
›› Voxengo.Voxformer.VST.v2.1.Incl.Serial-f
›› Streamworks Audio Complete SONAR 8 video
›› Installing Ubuntu in VMWare
›› PESAN-PESAN SETAN DIBALIK LAGU-LAGU POPU
›› Magda - She's A Dancing Machine
›› SG26 - Spectrum analyzer service
›› Clear Esn Ready
›› Antena Bignet
›› Waves Plug-Ins CSI Master (Video Tutoria
›› PHARMACEUTICAL ANALYSIS - II (THEORY)
›› Anritsu Site Master Connection Great New
›› Voxengo.Voxformer.VST.v2.1.Incl.Serial-f
›› Streamworks Audio Complete SONAR 8 video
›› Installing Ubuntu in VMWare
›› PESAN-PESAN SETAN DIBALIK LAGU-LAGU POPU
›› Magda - She's A Dancing Machine
›› SG26 - Spectrum analyzer service
You may find: